Mungkin di keluarga saya hal ini mengandung unsur keturunan. Dulu setiap kali ibu saya hamil, pasti muntah-muntah hebat. Hal yang sama kemudian terjadi pada kakak saya, hingga akhirnya dia masuk rumah sakit.
Ketika saya hamil, pun saya mengalami hal yang sama. Yang paling parah adalah saat kehamilan ketiga. Tidak ada sedikitpun makanan yang bisa masuk, pun air putih. Badan rasanya sakit, tulang-tulang linu. Saya menjadi sensitif dengan suara yang agak keras (suara dering telepon, televisi, dsb), sinar (dari lampu maupun dari jendela). Jadi saya terbaring diam di kamar yang gelap. Itu pun saya harus dalam posisi "mlungker" karena kalau berubah posisi maka saya akan muntah-muntah hebat. Muntah-muntah pun sangat menyiksa karena perut kosong, jadi seolah-olah seluruh isi perut tertarik keluar (bahkan saya merasa lambung saya bakalan ikut termuntahkan).
Satu-satunya makanan yang masuk adalah : tahu rebus diberi garam, plus beberapa sendok air minum sehari. Habis menyeruput satu sendok air, saya harus segera tidur "melungker" lagi dan tidak mau diajak bicara, karena saya harus konsentrasi agar air sesendok yang saya minum tadi tidak termuntahkan. Kemudian untuk menahan rasa muntah yang hebat, salah satu relaxasi yang saya lakukan adalah membayangkan berada di pantai yang sepi dan tenang, tiduran di atas pasir, di bawah pohon kelapa yang rindang. Kadang hal itu berhasil membuat saya tenang, mengatasi rasa mual yang hebat. Kadang tidak.
Hyperemesis Gravidarum adalah muntah-muntah parah yang terjadi pada ibu hamil. Kondisi itu diperparah dengan tidak bisa makan dan minum, badan sakit, perut seperti diaduk setiap saat. Asam lambung seolah naik hingga ke mulut. Silahkan baca pengalaman mereka yang mengalami Hyperemesis Gravidarum.
Saat ini adik saya yang bungsu sedang terbaring di rumah sakit (untuk yang kedua kalinya dalam sebulan) karena hyperemesis. Setiapkali saya menelepon, saya akan berbicara panjang lebar tanpa berharap dia akan menjawab karena dia tidak bisa bicara. Dia terlalu lemah untuk bicara, selain itu setiap kali mengeluarkan suara maka seluruh isi perut akan ikut keluar. Padahal perutnya kosong. Ini adalah kehamilan anak ketiga. Dulu waktu hamil anak kedua, dia juga masuk rumah sakit. Padahal dia dan suaminya adalah dokter. Mereka masing-masing mengepalai Puskesmas yang cukup besar dengan sekitar 30 orang tenaga paramedis. Namun menghadapi hyperemesis, dia (dan suaminya) benar-benar terkapar!
Ketika adik saya bertanya dengan suara lemahnya ,"Dulu kamu sampai berapa lama mengalami seperti ini?". Saya jawab ,"Oh, enggak lama kok. Cuman sebulan. Setelah itu alhamdulillah mulai membaik." Bohong! Kata saya dalam hati. Saya berbohong karena menurut pengalaman saya, ketika saya sedang hyperemesis dan seorang teman memberitahu bahwa kondisi itu bisa terjadi selama kehamilan, kondisi psikis saya langsung anjlog! Karena saat dalam kondisi hyperemesis, saya merasa seperti sedang berada di dalam terowongan yang gelap. Gelap sekali! Satu-satunya hal yang paling saya tunggu adalah munculnya cahaya samar di depan sana sebagai tanda terowongan akan segera berakhir.
Semoga Allah memudahkan kehamilanmu, adikku. Terima kasih untuk Nunik, adikku, yang setia mengunjungi dan menemani Ambar di rumah sakit setiap akhir pekan. Juga Mbak Pipik, bapak dan ibu
.
Baca juga situs resmi Hyperemesis Gravidarum - HELP Her.